Usulan Relokasi Perusahaan Manufaktur China ke Indonesia


Mengusulkan China untuk merelokasi perusahaan terutama perusahaan manufaktur mereka ke Indonesia. Hal ini seiring maraknya produk China yang masuk ke tanah air. Dengan demikian diharapkan neraca perdagangan antara Indonesia dengan Cina menjadi seimbang.

 

“Terutama produk China yang masuk ke Indonesia, lebih baiknya memiliki pabrik di Indonesia,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

 

Hal ini diungkapkan Menko Perekonomian saat melakukan kunjungan bilatreal ke China pekan lalu dan  bertemu dengan Perdana Menteri China. Selain itu Hatta, juga membicarakan bahwa ke depannya Indonesia tidak lagi menjual material karena tertuang dalam UU Minerba hingga 2012. Sebab itu, penting membangun industri hilirnya di Indonesia.

 

Sektor industri yang terkena  dampak implementasi perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) meliputi industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki (sepatu), industri elektronik, industri mebel kayu dan rotan, industri mainan anak, industri permesinan, industri besi dan baja, industri makanan dan minuman, serta industri jamu dan kosmetik.

 

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah mengungkapan indikasi kerugian implementasi ACFTA antara lain menurunnya produksi (industri) sekitar 25-50 persen, penurunan penjualan di pasar domestik 10-25 persen, dan penurunan keuntungan 10-25 persen. Selain itu juga pengurangan tenaga kerja 10-25 persen.

 

Masalah yang selama ini dihadapi adalah daya saing. Bukan hanya dalam konteks implementasi ACFTA saja, namun juga dalam konteks perdagangan bebas dengan negara lain.

 

 

Sumber :

Mengusulkan China untuk merelokasi perusahaan terutama perusahaan manufaktur mereka ke Indonesia. Hal ini seiring maraknya produk China yang masuk ke tanah air. Dengan demikian diharapkan neraca perdagangan antara Indonesia dengan Cina menjadi seimbang.

 

“Terutama produk China yang masuk ke Indonesia, lebih baiknya memiliki pabrik di Indonesia,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

 

Hal ini diungkapkan Menko Perekonomian saat melakukan kunjungan bilatreal ke China pekan lalu dan  bertemu dengan Perdana Menteri China. Selain itu Hatta, juga membicarakan bahwa ke depannya Indonesia tidak lagi menjual material karena tertuang dalam UU Minerba hingga 2012. Sebab itu, penting membangun industri hilirnya di Indonesia.

 

Sektor industri yang terkena  dampak implementasi perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) meliputi industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki (sepatu), industri elektronik, industri mebel kayu dan rotan, industri mainan anak, industri permesinan, industri besi dan baja, industri makanan dan minuman, serta industri jamu dan kosmetik.

 

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah mengungkapan indikasi kerugian implementasi ACFTA antara lain menurunnya produksi (industri) sekitar 25-50 persen, penurunan penjualan di pasar domestik 10-25 persen, dan penurunan keuntungan 10-25 persen. Selain itu juga pengurangan tenaga kerja 10-25 persen.

 

Masalah yang selama ini dihadapi adalah daya saing. Bukan hanya dalam konteks implementasi ACFTA saja, namun juga dalam konteks perdagangan bebas dengan negara lain.

 

Sumber :

Mengusulkan China untuk merelokasi perusahaan terutama perusahaan manufaktur mereka ke Indonesia. Hal ini seiring maraknya produk China yang masuk ke tanah air. Dengan demikian diharapkan neraca perdagangan antara Indonesia dengan Cina menjadi seimbang.

 

“Terutama produk China yang masuk ke Indonesia, lebih baiknya memiliki pabrik di Indonesia,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

 

Hal ini diungkapkan Menko Perekonomian saat melakukan kunjungan bilatreal ke China pekan lalu dan  bertemu dengan Perdana Menteri China. Selain itu Hatta, juga membicarakan bahwa ke depannya Indonesia tidak lagi menjual material karena tertuang dalam UU Minerba hingga 2012. Sebab itu, penting membangun industri hilirnya di Indonesia.

 

Sektor industri yang terkena  dampak implementasi perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) meliputi industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki (sepatu), industri elektronik, industri mebel kayu dan rotan, industri mainan anak, industri permesinan, industri besi dan baja, industri makanan dan minuman, serta industri jamu dan kosmetik.

 

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah mengungkapan indikasi kerugian implementasi ACFTA antara lain menurunnya produksi (industri) sekitar 25-50 persen, penurunan penjualan di pasar domestik 10-25 persen, dan penurunan keuntungan 10-25 persen. Selain itu juga pengurangan tenaga kerja 10-25 persen.

 

Masalah yang selama ini dihadapi adalah daya saing. Bukan hanya dalam konteks implementasi ACFTA saja, namun juga dalam konteks perdagangan bebas dengan negara lain.

 

Sumber : http://www.indotextiles.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1786&Itemid=72

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s