Sulitnya Memanfaatkan Ekspor Tekstil Nasional ke Amerika


Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, mengatakan produsen tekstil nasional memiliki peluang pening¬katan ekspor ke AS, tapi sulit untuk meraihnya karena harus ber¬kompetisi dengan Vietnam, Pakis-tan, India, dan Bangladesh yang produknya lebih kompetitif.

 

Peluang ekspor tekstil ke AS terbuka lebar setelah negara itu mencari negara pengganti China yang selama ini menjadi pemasok terbesar produk tekstilnya, karena China menaikkan harga jual produknya.

 

“Peluang ASEAN memang sa¬ngat besar karena memiliki historikal kualitas produk yang lebih baik dari negara lain. Namun Vietnam lebih berpotensi karena me¬rupakan negara importir terbesar kedua setelah China untuk pasar AS,” ujar Ade.

 

Ade menilai jika AS melakukan pengalihan impor tekstil sebesar 20% ke negara-negara di ASEAN, maka Vietnam menjadi negara prioritas untuk memenuhi sebesar 10%-15% dari kebutuhan AS. Selain menjadi negara eksportir tekstil terbesar kedua ke AS setelah China, Vietnam juga memiliki keunggulan lain dibandingkan Indonesia. Infrastruktur di Vietnam lebih memadai sehingga membuat biaya produksi tekstil lebih murah dibanding Indonesia.

 

Indonesia menduduki urutan keenam sebagai eksportir teks¬til ke AS. Hal lain yang menjadi kendala, dukungan infrastruktur masih lemah karena pelabuhan di Indonesia belum bisa menampung kapal-kapal dengan tones yang besar.

 

“Ongkos bongkar muat kontainer di Indonesia jauh lebih mahal dari Vietnam. Di Indonesia, biaya bongkar muat di pelabuhan mencapai US$ 97 per kontainer 20 feet, sedangkan di Vietnam hanya US$ 47 per kontainer 20 feet,” jelas dia.

 

Menurut data asosiasi, pada kuartal I 2011 ekspor tekstil nasio¬nal meningkat 18% menjadi US$ 3,8 miliar dibandingkan kuartal I 2010 sebesar US$ 3,2 miliar. Sepanjang tahun ini, ekspor tekstil Indonesia ke berbagai negara ditargetkan mencapai US$ 15 miliar, naik 33% dibandingkan 2010.

 

Pertumbuhan ekspor di kuartal I tahun ini terjadi seiring tingginya permintaan di pasar dunia. Meningkatnya permintaan tekstil tersebut ikut mendorong kenaik¬an harga kapas dunia pada kuartal I 2011.

 

Mahendra Siregar, Wakil Menteri Perdagangan, mengatakan saat ini importir AS mulai mencari alternatif impor dari luar China, karena harga garmen dari China mulai naik. China menjadi pemasok utama garmen di AS. Sekitar 75% kebutuhan garmen AS berasal dari China. Sedangkan sisanya diimpor dari 12 negara lain, termasuk negara ASEAN se¬perti Vietnam dan Indonesia.

 

 

Sumber : http://www.indotextiles.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1784&Itemid=72

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s