Potensi Serat Lyocell sebagai Bahan Baku TPT


Lyocell adalah salah satu serat buatan selulosa yang akhir-akhir ini banyak digunakan oleh industri tekstil sebagai alternatif pengganti dan pelengkap serat selulosa lainnya seperti rayon viskosa, kupro, modal, asetat dan juga serat kapas. Munculnya serat selulosa buatan baru ini diawali pada awal tahun 1990 [29,35], karena serat selulosa buatan yang telah ada sebelumnya dihasilkan berdasarkan derivated cellulose menggunakan senyawa karbon bisulfit (CS2) atau kuproamonium yang berdampak pada pencemaran lingkungan. Lyocell merupakan serat selulosa buatan tanpa menggunakan kedua senyawa kimia tersebut. Bahan dasar serat selulosa lyocell ini berupa chemical pulp yang diperoleh dari hewan atau tanaman tahunan, tidak lagi bergantung pada tanaman kayu yang akhir-akhir ini sulit dan tidak konsisten keberadaannya [15].

Lyocell (berasal dari kata Lyo, bahasa Yunani Lyein = dissolve = larut dan Cell = selulosa) adalah serat selulosa buatan yang diperoleh melalui suatu proses regenerasi selulosa melalui pelarutan dalam pelarut organik NMMO (N-Methyl-Morpholine-N-Oxide) [34], tanpa melalui proses derivasi. Nama lyocell tersebut disahkan oleh suatu institusi International Office for Standardization of Rayon and Syntehetic Fiber BISFA (Brussel dan  USA) dengan symbol CLY [10]. Sampai dengan akhir tahun 2004, kebutuhan akan serat lyocell diperkirakan mencapai 120.000 ton/tahun meningkat ± 6,7 kali sejak awal produksi pada tahun 1993 yang baru mencapai 18.000 ton/tahun [20]. Produsen serat lyocell dimiliki oleh industri-industri pembuat serat seperti Courtaulds (USA/Inggris), Lenzing AG (Austria), Akzo Nobel Fiber (Jerman), TITK (Jerman) dan Russian Research Institute. Nama dagang dari serat lyocell berbeda-beda bergantung pada produsennya  [30] seperti Tensel (serat stapel) dan Courtaulds Lyocell (serat-serat untuk technical textile) dari Courtaulds, Lenzing Lyocell (serat stapel dari Lenzing), New Cell (serat filamen dari Akzo), ORCELL (Rusia), dan ALCERU (Alternative Cellulose from Rudolstadt) berupa serat stapel dan filamen dari TITK.
Pada umumnya serat lyocell memiliki karakteristik yang lebih baik dari serat selulosa buatan lainnya atau serat kapas terutama dalam hal kekuatan, daya serap, efek mengkeret dan dapat dibiodegradasi. Namun kelemahan dari serat lyocell yaitu memiliki sifat cenderung membentuk efek fibril (sekelompok serat yang sangat halus pada permukaan serat lyocell utuh, panjang ± 1mm) akibat perlakuan tegangan dalam kondisi basah pada saat proses pembuatan seratnya (pemintalan filamen) atau pada saat proses lainnya. Di satu sisi efek fibril diperlukan untuk keperluan technical textile dan spesial efek untuk keperluan fesyen (pakaian jadi),  tetapi di lain pihak efek ini harus dihilangkan karena akan menurunkan kualitas benang/kain dalam hal ketahanan gosok. Pemanfaatan serat lyocell akhir-akhir ini sudah banyak diterapkan di industri pakaian jadi (gaun wanita dan sesuai untuk pakaian yang ringan), tekstil rumah tangga, dan produk non-woven (higienis, kosmetika, dan kesehatan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s