Potensi Rumput Laut Coklat sebagai Zat Warna Alam untuk Kain Sutera


Di dalam rumput laut coklat terkandung senyawa alginat yang terikat sebagai garam logam alginat, sehingga berpotensi untuk dibuat alginat yang banyak digunakan untuk industri tekstil, makanan, farmasi, pengeboran minyak, dll. Selain hasil ekstraksinya mengandung gugus pembawa warna, antara lain  berupa pigmen fukosantin yang  berwarna coklat yang dapat dimanfaatkan untuk mencelup serat protein melalui ikatan ionik.

Untuk mengetahui potensi rumput laut coklat sebagai zat warna alam, telah dilakukan pencelupan sutera menggunakan 3 jenis rumput laut coklat yaitu Sargassum hystrik, Sargassum crassifolium dan Hormophysa sp., dengan variasi pH dan senyawa kopling (ferosulfat, tawas dan garam naftol) untuk pengerjaan iring. Pengujian yang dilakukan meliputi tahan luntur warna terhadap pencucian, keringat, gosokan, sinar dan penyerapan zat warna ke  dalam serat. Adapun residunya diuji kadar alginat dan viskositas.

Dari hasil pengujian diketahui bahwa tahan luntur warna terhadap pencucian, keringat dan gosokannya adalah sangat baik (4 – 5 Skala Abu-Abu), baik tanpa maupun dengan pengerjaan iring. Adapun tahan luntur warna terhadap sinar sebelum pengerjaan iring menunjukkan hasil yang rendah (2 Skala Abu-Abu), namun setelah pengerjaan iring dengan ferosulfat dan tawas terjadi peningkatan (4 – 5 dan 4  Skala Abu-Abu), sedangkan dengan garam naftol tidak menunjukkan peningkatan.  Dibanding dengan zat warna alam lainnya, ketahanan luntur warna tersebut  relatif lebih baik dan hal ini merupakan keunggulan dari zat warna yang berasal dari rumput laut coklat.

Diketahui pula bahwa penyerapan zat warna ke dalam serat sangat dipengaruhi oleh pH larutan dan jenis rumput laut. Penyerapan terbesar terjadi pada pH 3,5 dan warna tertua berturut-turut diperoleh dari Sargassum hystrik, Sargassum crassifolium dan Hormophysa sp.. Selain  itu walaupun rumput laut tersebut diekstraksi ulang sampai 3 kali, ternyata masih dapat dimanfaaatkan untuk mencelup walaupun terjadi gradasi warna (terutama Sargassum hystrik), dan residunya masih menunjukkan potensi yang baik sebagai bahan pengental.

Dari tinjauan tekno ekonomi industri kecil pencelupan kain batik sutera dengan bahan baku rumput laut untuk zat warnanya, dengan asumsi kapasitas celup 10 kg  kain per hari dan konsentrasi zat warna  5 g/l, maka dibutuhkan rumput laut coklat kering 16 kg (@ Rp. 4.000,-). Setelah dicelup harga jual kain meningkat  sekitar  200%, sehingga diperoleh laba bersih pertahun minimal  55 %, dengan   BEP 34,4% dan Proyeksi Cash – Flow  sudah terjadi perputaran pada tahun ketiga.

 

 

http://www.bbt.kemenperin.go.id/index.php/hasil-penelitian/arena-tekstil/48-arena-2006/179-Potensi-Rumput-Laut-Coklat-sebagai-Zat-Warna-Alam-untuk-Kain-Sutera

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s