Penggunaan Larutan Sisa Pencelupan


Pada proses pencelupan, zat warna yang digunakan pada umumnya tidak akan masuk seluruhnya ke dalam bahan tekstil, sehingga efluen yang dihasilkan masih mengandung residu zat warna.

Hal inilah yang menyebabkan efluen tekstil menjadi berwarna-warni dan mudah dikenali pencemarannya  apabila dibuang langsung ke perairan umum. Selain itu kandungan residu zat warna dan zat-zat pembantu pencelupan yang digunakan akan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap total beban efluen industri tekstil(1).
Masalah lingkungan yang utama dalam industri tekstil adalah limbah dari proses pencelupan. Zat warna, logam berat dan konsentrasi garam yang tinggi merupakan polutan air(1, 14). Usaha utama yang perlu dilakukan guna mengurangi bahan kimia tersebut adalah penghilangan material toksik dari efluen. Pendekatan lain, yaitu menggunakan kembali limbah air sisa pencelupan, karena selain mengurangi toksisitas efluen, juga dapat menghemat biaya (untuk pembelian zat warna, zat pembantu dan energi). Walaupun efluen pencelupan merupakan suatu sistem yang kompleks dengan begitu banyak variabel dan tidak mudah dikontrol dengan tepat, namun apabila dapat dimanfaatkan kembali mungkin dari segi ekomoni akan mempunyai nilai tambah.
Serat kapas atau serat selulosa lainnya dapat dicelup dengan berbagai jenis zat warna, namun zat warna reaktif adalah salah satu zat warna yang biasa digunakan untuk mencelup bahan tersebut, karena kualitas celupannya yang sangat baik dan penggunaannya mudah(6, 10). Afinitas zat warna ini terhadap serat kapas tidak terlalu tinggi, sehingga untuk menambah penyerapan diperlukan penambahan garam dalam jumlah yang cukup besar (sekitar 20 – 80 g/l)(1, 2). Oleh karena itu saat ini sudah tersedia zat warna reaktif dengan fungsi ganda (bifungtional reactive dyes)(1, 2, 14) yang memiliki dua buah gugus reaktif (monoklorotriazina dan vinil sulfon). Zat warna ini merupakan hasil pengembangan untuk memperbaiki sifat fiksasi/penyerapannya, namun dalam penggunaannya tetap saja memerlukan pemakaian garam dengan konsentrasi yang cukup tinggi.  Residu  zat warna maupun garam dalam efluen akan menyebabkan polusi dan residu  zat warnanya adalah cukup tinggi, yaitu sekitar 20-50% dari zat warna yang digunakan(1, 15). Diketahui pula apabila digunakan pada pencelupan  dengan sistem perendaman,  maka zat warna yang terdapat dalam effluen adalah sekitar 60 – 70 mg/l(3). Selain itu dari literatur, survei lapangan dan penelitian di laboratorium diketahui bahwa pengolahan efluen yang mengandung zat warna tersebut, baik dari segi penurunan beban cemaran maupun warnanya adalah sangat sulit,  karena sukar didegradasi baik secara metoda kimia maupun biologi(5, 8, 9, 12, 13).Dengan demikian apabila larutan sisa pencelupan ini dapat digunakan kembali,  maka diharapkan dapat mengurangi biaya pengolahan yang relatif mahal. Akan tetapi larutan sisa pencelupan tersebut mengandung zat warna reaktif terhidrolisa yang tidak dapat berfiksasi dengan serat kapas, sehingga apabila digunakan kembali untuk mencelup serat tersebut akan menghasilkan celupan dengan tahan luntur warna terhadap pencucian yang rendah(4). Namun selain gugus reaktifnya, gugus kromofor zat warna reaktif adalah sama dengan zat warna asam (anionik), sehingga dimungkinkan penggunaan zat warna terhidrolisa tersebut  untuk mencelup serat protein (wol, sutera), nylon dan serat lain yang dapat bermuatan positif sewaktu proses pencelupan. Hal ini patut dipertimbangkan, karena walaupun dibandingkan dengan zat-zat pembantu pencelupan lainnya, kuantitas zat warna yang digunakan pada suatu industri tekstil adalah relatif kecil, namun apabila ditinjau dari segi biaya, pengeluaran biaya untuk pembelian zat warna adalah yang terbesar(1, 14). Dengan demikian apabila limbah zat warna tersebut dapat dimanfaatkan kembali, maka disamping dapat meminimisasi beban pencemaran dan memudahkan pengolahan efluen tekstil, juga dapat menghemat biaya yang diperlukan untuk pembelian zat warna.
Dari uraian di atas, maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mempelajari kemungkinan penggunaan larutan sisa pencelupan kapas dengan zat warna reaktif untuk mencelup serat nylon. Percobaan dilakukan terhadap zat warna reaktif dengan beberapa jenis gugus reaktif, kemudian  dipilih 3 (tiga) zat warna reaktif yang mewakili golongannya. Pencelupan dilakukan pada bahan kapas, selanjutnya larutan sisa pencelupannya digunakan untuk mencelup bahan nylon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s