Pemanfaatan Serat Nanas (Ananas Cosmosus)


Tanaman nanas (Ananas cosmosus) termasuk famili Bromeliaceae merupakan tumbuhan  tropis dan subtropis yang banyak terdapat di Filipina, Brasil, Hawai, India dan Indonesia. Di Indonesia tanaman tersebut terdapat antara lain di  Subang, Majalengka, Purwakarta, Purbalingga, Bengkulu, Lampung dan Palembang, yang merupakan salah satu sumber daya alam yang cukup berpotensi. Menurut data yang diperoleh (1, 8) perkebunan nanas yang dimiliki  kabupaten DT II Muara Enim Palembang  seluas  26.345 Ha, Subang  4000 Ha (perkebunan nanas dan abaka), Lampung utara  32.000 Ha dan Lampung Selatan  20.000 Ha. Tanaman nanas akan dibongkar setelah dua atau tiga kali panen untuk diganti tanaman baru, oleh karena itu limbah daun nanas terus berkesinambungan sehingga cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai produk yang dapat memberikan nilai tambah. Namun hingga saat ini tanaman nanas baru buahnya saja yang dimanfaatkan, sedangkan daunnya belum banyak dimanfaatkan sepenuhnya. Pada umumnya daun nanas dikembalikan ke lahan untuk digunakan sebagai pupuk. Tanaman nanas dewasa dapat menghasilkan 70 – 80 lembar daun atau 3 –5 kg dengan kadar air  85 %.  Setelah panen bagian yang menjadi limbah  terdiri   atas  daun 90 %, tunas batang 9 % dan  batang 1 %. Serat nanas  terdiri atas  selulosa dan non selulosa  yang diperoleh melalui penghilangan lapisan luar daun secara mekanik. Lapisan luar daun berupa pelepah  yang terdiri atas  sel kambium, zat pewarna  yaitu  klorofil, xanthophyl dan carotene yang merupakan komponen kompleks dari jenis tanin, serta lignin yang terdapat di bagian tengah daun. Selain itu lignin juga terdapat pada   lamela dari serat dan  dinding sel serat.  Serat yang diperoleh dari daun nanas muda kekuatannya relatif rendah dan seratnya lebih pendek dibanding serat dari daun yang sudah tua. Komposisi kimia serat nanas disajikan pada Tabel 1(2). Sebagai pembanding disajikan juga komposisi kimia serat kapas dan rami.

Tabel  1. Komposisi Kimia Serat Nanas (2)

Komposisi kimia
Serat Nanas
(%)
Serat Kapas
(%)
Serat Rami
(%)
1. Alpha Selulosa
69,5 – 71,5
94
72 – 92
2. Pentosan
17,0 – 17,8
3. Lignin
4,4 – 4,7
0  – 1
4. Pektin
1,0 – 1,2
0,9
3 – 27
5. Lemak dan Wax
3,0 – 3,3
0,6
0,2
6. Abu
0,71 – 0,87
1,2
2,87
7. Zat-zat lain (protein, asam organik, dll.)
4,5 – 5,3
1,3
6,2

 

Sifat-Sifat Serat Nanas
Secara mikroskopi penampang membujur serat nanas  dilihat dengan  scanning elektron mikroskop (5), permukaannya tediri atas fibril–fibril dan dengan sinar X menunjukkan bahwa serat nanas mempunyai derajat kristalinitas yang tinggi dengan sudut spiral kira-kira 15o. Pada daerah kristalin molekul-molekulnya tersusun lebih kuat/kencang dengan ikatan hidrogen dan gaya van der waals, sehingga serat nanas mempunyai kekuatan yang relatif tinggi. Kekakuan lentur atau Flexural rigidity dan torsional rigidity serat relatif lebih tinggi dibanding kapas. Hal ini menyebabkan  serat mempunyai  ketahanan yang  besar untuk digintir (twist), sehingga serat cenderung tidak segera tergintir pada saat proses penggintiran selesai. Oleh karena itu serat cenderung kaku dan agak sulit untuk mendapatkan  serat yang kompak seperti yang dikehendaki. Sifat porous dan menggelembung (swelling) pada serat nanas menunjukkan adanya sifat daya absorbsi lembab dan kemampuan untuk dicelup. Serat nanas tidak menunjukkan pengurangan kekuatan dalam penyimpanan hingga  6 bulan, sedangkan  penyimpanan lebih dari 6 bulan terjadi penurunan kekuatan.
Termal konduktivitas serat nanas relatif rendah yaitu sebesar 0,0273 watt/m2/oK, oleh karena itu  serat nanas  merupakan termal isolator yang baik. Melihat kondisi tersebut di atas serta sifat-sifat serat nanas, maka pemanfaatan limbah daun nanas untuk produk tekstil dimungkinkan memiliki prospek usaha yang positif dan perlu dikembangkan agar diperoleh teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan oleh IKM dengan nilai tambah yang cukup tinggi. Dalam penelitian ini dicoba memanfaatkan  serat nanas untuk  produk vertical blind (produk yang difungsikan sebagai tirai penutup jendela yang bersifat  kaku  atau  tidak  langsai), hal ini karena melihat karakter spesifik  serat nanas   yaitu  sifat kekakuan lentur yang  tinggi sehingga  dapat menunjang produk vertical blind yang juga memerlukan sifat tersebut.  Dengan demikian diharapkan dapat  mendorong pertumbuhan industri pengolah serat nanas di Indonesia khususnya produk vertical blind.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s