Eco Fashion, Trend yang Perlu Digalakan Demi Masa Depan Bumi


Terus bergulirnya isu Global Warming, dan diadakannya Konferensi Perubahan Iklim tahun lalu, semakin menyadarkan masyarakat akan pentingnya industri ramah lingkungan. Karena mengingat bahwa sumbangan karbon dioksida (CO2) terbesar di muka bumi berasal dari dunia industri.

 

Termasuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Bahkan pada tahun 2007 saja industri tekstil tercatat sebagai penyumbang terbesar pencemaran lingkungan. Hal ini dikarenakan industri tersebut banyak menghasilkan limbah cair.

 

Dalam tingkat industri hulu misalnya, produksi nilon ataupun polyester yang sering digunakan sebagai pakaian, terbuat dari bahan petrokimia yang menjadi salah satu kontributor utama terjadinya global warming. Hal ini dikarenakan nilon dan polyester mengeluarkan gas nitro oksida (NO2) dalam proses produksinya.

 

NO2 ini dikenal memiliki kemampuan 300 kali lebih besar daripada gas karbondioksida (CO2) untuk menimbulkan efek rumah kaca. Selain itu, kedua jenis bahan itu juga sulit di daur ulang.

 

Kain katun, yang terlihat paling natural sekalipun, justru lebih tidak ramah lingkungan dibanding kain sintetis lainnya. Kapas, yang menjadi bahan dasar katun menjadi tidak ramah akibat disemprot dengan campuran pestisida dan bahan kimia lainnya secara rutin.

 

Untuk itu, seiring dengan pembicaraan-pembicaraan lanjutan di tingkat kenegaraan soal perubahan iklim, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pun memandang perlunya suatu peningkatakan industri yang lebih ramah lingkungan. Sudah sewajarnya bila industri TPT mulai memikirkan dan mengambil langkah untuk lebih “menghijaukan” industrinya.

 

Untuk tujuan itu, para pelaku mode setidaknya telah mulai memasyarakatkan tekstil ramah lingkungan sejak dua tahun lalu. Saat itu tercatat, Swiss Textile-Testing Testex telah mengadakan seminar mengenai  produk tekstil ramah lingkungan, di Bandung, Indonesia.

 

Dalam seminar itu muncul kesimpulan bahwa penciptaan “Green Fashion/Eco Textiles” memerlukan proses yang rumit dan saling berkaitan.  Mulai dari penanaman benih tumbuhan penghasil serat, pemeliharaan bahan baku (kapas, bambu, rami, dll), pemintalan, pencelupan, hingga finishing menjadi pakaian, tas dan lainnya, harus terbebas dari bahan kimia.

 

Disamping itu dari tingkatan produsen, distributor, hingga peritel pun harus memperhatikan hal ini, sehingga tercipta mata rantai yang bekelanjutan. Bila satu mata rantai hilang, maka Eco Textiles pun tidak akan ada artinya.

 

Namun, hal itu terbentur lagi soal dana. Penciptaan suatu industri ramah lingkungan tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit, mulai dari proses produksi sampai ke distribusi. Hal itu pun lantas menjadikan produk-produk yand dapat dihasilkan Eco Textiles menjadi mahal.

 

Untuk itu diperlukan kesadaran para pelaku mode untuk mensosialisasikan hal ini, agar menjadi satu kesadaran publik. Disamping juga diperlukan dukungan dan proteksi pemerintah agar Eco Textiles dapat benar-benar terlaksana. Karena mengingat komitmen negara-negara untuk mengurangi emisi gas karbon dalam Konferensi Perubahan Iklim.

 

Recycling

Selain mempergunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan, Eco Textiles juga dapat diartikan sebagai penggunaan bahan-bahan daur ulang (recycle) dalam pembuatan produk-produk tekstil. Lantas, apakah Eco Textiles ini berarti trend penggunaan bahan bekas dengan hasil seadanya?

 

Tentu tidak, hal itu kembali lagi pada kreatifitas para pelaku mode dalam penciptaan fashion ramah lingkungan. Bukan berarti, bahan-bahan daur ulang itu tidak dapat diolah sedemikian rupa menjadi suatu produk fashion yang unik.

 

Seperti apa yang dilakukan oleh Carmanita misalnya. Desainer yang berada di bawah naungan Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) ini sadar bahwa penggunaan produk-produk organik dapat memakan biaya yang besar. Oleh karena itu dia melakukan cara yang menurutnya cocok dan tetap di jalur hijau.

 

“Ongkos produksi bahan organik itu mahal, nanti jatuhnya ke konsumen bisa lebih mahal lagi, padahal daya beli masyarakat Indonesia masih rendah,” ujarnya dalam sebuah kesempatan. “Karena itu, saya melakukan teknik re-use, sisa-sisa kain saya olah kembali, di tie-dye, diwarnai lagi, lalu dibuat menjadi koleksi baru. Itu juga bisa disebut eco fashion,” terangnya.

 

Anne Avantie, wanita yang terkenal dengan rancangan kebaya glamor pun menggunakan sisa-sisa kain dari produksinya terdahulu menjadi sebuah karya adibusana. Teknik Stitching menjadi pilihan desainer asal Semarang ini dalam menyatukan kain-kain olahan menjadi sebuah kebaya lurik.

 

Di luar negeri, eco fashion pun mulai dilakukan oleh sejumlah desainer. Linda Loudermilk, misalnya, mewujudkan eco fashion melalui rangkain busana yang terbuat dari sifon organik dan lyocell, kain biodegradable dari bubur kayu. Selain juga Heatherette yang mempromosikan koleksi busana dari polyester daur ulang di New York Fashion Week.

 

Selain kain daur ulang, serat plastik dan botol soda pun menjadi pilihan bagi Brand Sportswear Patagonia untuk menghasilkan kain halus. Di belahan bumi lain, Nancy Ng, siswa jurusan sustainable fashion design di California College of the Arts membuat sepasang sepatu dari limbah karet dan kayu.

 

Beberapa contoh di atas, menunjukan bahwa saat ini ide “hijau” telah menghinggapi para desainer. Kesadaran akan lingkungan membuat mereka memutar otak guna menghasilkan suatu produk fashion yang ramah lingkungan.

 

 

Sumber : http://www.indotextiles.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1103&Itemid=72

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s