Arsip Bulanan: Juli 2011

Selintas Sejarah Serat


 

    • Awal pembuatan tekstil dari serat telah di mulai sejak sekitar 4.000 tahun sebelum masehi.
    • Penanaman tumbuhan Flax (salah satu jenis serat alam) di Eropa.
    • Sekitar tahun 3000 sebelum masehi ditemukan tenunan kapas pada suatu vas perak di Pakistan

    • Alat pemintalan tangan dan tenun meja digunakan.
    • Material serat seperti wol, flax, kapas dan sutera di proses dengan alat-alat manual.
    • Tahun 1665 seorang Inggris bernama Robert Hooke datang dengan suatu pemikiran untuk membuat suatu benang buatan dari suatu zat yang kental. Kemudian dicari berbagai alternatif pengembangan teknologi untuk menghasilkan benang tersebut.

  • Mulai tahun 1850 terjadi perkembangan kimia selulosa.
  • Pada tahun 1884, Graf Chardonnet untuk pertama kalinya membuat sutera buatan dari selulosa. Sutera buatan ini dibuat dengan proses pemintalan menggunakan nitroselulosa (larut dalam larutan organik). Akan tetapi sayang sekali sutera buatan ini mudah terbakar dan karenanya tidak dapat digunakan untuk pakaian.

    • Pada tahun 1927 seorang ahli kimia Jerman bernama Hermann Staudinger menyatakan bahwa serat alam sebenarnya tersusun dari suatu rantai molekul yang besar. Penemuan ini menjadi dasar pengembangan kimia serat dan menempatkan Hermann Staudinger sebagai peraih penghargaan Nobel untuk bidang kimia. Staudinger mengetahui bahwa selulosa adalah suatu rantai Molekul!!!
    • Tahun 1931 terjadi pengembangan serat PVC (polyvinyl chloride).
    • Tahun 1935 Lahirnya serat yang kemudian diberi nama Nylon atau nilon. 5 tahun kemudian orang dapat membeli kaus kaki pertama yang terbuat dari bahan serat Nilon.

  • Tahun 1938 pengembangan Nylon 6 (Perlon) oleh P. Schlack.
  • Tahun 1941 penemuan polyethylene terephthalate (PET) oleh Winfield dan Dickson melalui polikondensasi dari etil glikol dan asam tereftalat.
  • Tahun 1948 pengembangan lebih lanjut serat poliamida (PA 11) oleh J. Zeltner dan M. Genas.
  • Tahun 1959 produksi pertama serat polypropylene oleh G. Natta, P. Pinni. dan G. Mazzanti.
  • 1962 pengembangan serat Aramid oleh Du Pont.
  • 1985 penemuan Lyocell oleh seorang Amerika bernama Enka.
  • Serat-serat kimia atau serat buatan (polyamide, polyester, polyacrylonitrile) dalam kurun waktu 20 tahun selanjutnya terus berkembang.

 

Sumber : http://thinktextiles.blogspot.com/search/label/Sejarah%20Tekstil

Apa Itu Serat ?


Serat adalah suatu material yang perbandingan antara panjang dan lebarnya sangat besar dan molekul-molekul yang menyusunnya terorientasi terutama ke arah panjang. Serat kapas misalnya memiliki perbandingan panjang:lebar dari mulai 500 : 1 sampai dengan 1000 : 1. Sedangkan serat tekstil adalah serat –serat yang digunakan untuk aplikasi tekstil. Contohnya serat kapas yang biasa dipakai untuk pakaian, serat karbon untuk aplikasi tekstil komposit, dsb. Di dalam berbagai literatur-literatur dan perdagangan tekstil biasanya serat tekstil cukup ditulis sebagai serat saja dan ia mengacu pada pengertian serat tekstil.

Serat pada umumnya dapat dibedakan atau diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu serat alam dan serat buatan (secara kimiawi). Serat alam terbagi kedalam tiga kategori besar, yaitu serat yang berasal dari tumbuhan, dari hewan dan materi anorganik. Kapas, rami, Jute, Kenap, Kapok adalah beberapa contoh serat alam yang berasal dari tumbuhan, sedangkan wol dan sutera adalah serat yang berasal dari hewan. Sementara serat asbes adalah contoh serat yang berasal dari mineral.


Adapun serat buatan terbagi dalam tiga bagian, yaitu yang bahan bakunya berasal dari alam tetapi kemudian mengalami proses polimerisasi lanjutan seperti ; viskosa, asetat, kuproamonium, dsb. Ada juga yang bahan bakunya berasal dari hasil sintesis polimerisasi misalnya; polyester, nilon, poliuretan, polivinil, dsb. Sedangkan yang ketiga yaitu yang berbahan dasar anorganik misalnya serat logam, gelas, dsb.
Pada dasarnya semua material serat merupakan polimer. Supaya dapat dibuat menjadi serat, polimer harus memenuhi syarat sebagai berikut :

  1. Polimer harus linear dan mempunyai berat molekul lebih dari 10.000, tetapi pada saat yang bersamaan juga tidak boleh terlalu besar sebab nantinya akan sulit untuk dilelehkan atau dilarutkan.
  2. Molekul harus simetris dan mempunyai gugus-gugus samping yang besar yang dapat mencegah terjadinya susunan yang rapat.
  3. Polimer harus memberikan kemungkinan untuk mendapatkan derajat orientasi yang tinggi, sehingga sewaktu terjadi proses penarikan pada serat akan menambah kekuatan.
  4. Polimer harus mempunyai gugus polar yang letaknya teratur untuk mendapatkan kohesi antar molekul yang kuat dan titik leleh yang tinggi.
  5. Khusus untuk keperluan tekstil sandang, serat harus mudah diberi zat warna. Apabila diberi zat warna maka sifat fisika seratnya tidak boleh mengalami perubahan yang mencolok dan warna bahan jadinya harus tahan terhadap pencucian, keringat dan cahaya.

Serat menurut arah panjangnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu serat-serat pendek atau biasa disebut stapel dan filamen. Filamen adalah serat yang sangat panjang dan langsung dijadikan benang, sehingga istilah filamen itu sering mengacu pada pengertian jenis benang. Berbeda halnya dengan filamen, serat stapel harus terlebih dahulu melalui proses pemintalan sebelum dijadikan benang.

Sumber :

  1. Dr.Evelin Jähne, Chemie und Technologie der Faserstoffe, Vorlesung Winter Semester. TU Dresden, 2008.
  2. Widayat,dkk, Serat-serat Tekstil, Institut Teknologi Tekstil, Bandung, 1975.

 

Sumber : http://thinktextiles.blogspot.com/2009/01/apa-itu-serat.html

Cara Merawat Batik dengan Pewarna Alam


Batik yang dicelup menggunakan pewarna alami memang lebih cepat pudar dibanding dengan menggunakan pewarna kimiawi, karena batik dengan pewarna alami tidak mengalami proses fiksasi (penguncian warna) yang maksimal. Kain batik dengan pewarnaan alami membutuhkan penanganan khusus dibanding kain batik biasa. Untuk merawat kain batik dengan pewarna alami, caranya antara lain:

  • Mencuci kain batik dengan menggunakan sampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu sampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan.Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran. Harap diperhatikan,anda juga tidak perlu merendamnya terlalu lama.

  • Kain batik jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Cara mencuci kain batik seperti ini akan membuat warna alami kain batik tak bertahan lama.

  • Sebaiknya Anda juga tidak menjemur kain batik berpewarna alami di bawah sinar matahari langsung.dan lebih bagus jika anda menjemurnya dalam keadaan terbalik

  • Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan kain pelapis lainnya lebih baik yang berwarna muda/polos, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.

  • Masih dengan kain pelapis, Anda bisa menyetrika kain batik berpewarna alami tersebut. Jangan menyetrika langsung pada kainnya karena ini bisa memengaruhi warna motifnya.

  • Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik berpewarna alami.

 

Sumber : http://batikpekalongan.wordpress.com/2007/09/30/cara-merawat-batik-dengan-pewarna-alam/

Motif Batik Mega Mendung Cirebon


Aneh!! Itulah yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya ketika melihat motif batik yang menyerupai bentuk awan yang berarak-arak di langit. Lama-lama, setelah saya sering memperhatikan motif batik ini, timbullah rasa kagum. Motifnya yang terkesan abstrak, ternyata sangat indah dan terkesan mistis (agak berlebihan ya?). Lebih dari itu, ternyata motif ini mempunyai nilai sejarah, seni dan filosofi yang sangat tinggi.

Motif batik ini dikenal dengan nama MEGAMENDUNG atau awan-awanan. Merupakan karya seni batik yang identik dan bahkan menjadi ikon batik daerah Cirebon. Motif batik ini mempunyai kekhasan yang tidak ditemui di daerah penghasil batik lain. Bahkan karena hanya ada di Cirebon dan merupakan masterpiece, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI akan mendaftarkan motif megamendung ke UNESCO untuk mendapatkan pengakuan sebagai salah satu world heritage.

Motif megamendung sebagai motif dasar batik sudah dikenal luas sampai ke manca negara. Sebagai bukti ketenarannya, motif megamendung pernah dijadikan cover sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul “Batik Design”, karya seorang berkebangsaan Belanda bernama Pepin van Roojen.

Kekhasan motif megamendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam motifnya. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon.

Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.

Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

Batik Megamendung

Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China ke dalam motif batik yang mereka buat, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan cenderung lonjong, lancip dan segitiga.

Sejarah batik di Cirebon juga terkait dengan perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Membatik pada awalnya dikerjakan oleh anggota tarekat yang mengabdi di keraton sebagai sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tarekat tersebut. Para pengikut tarekat tinggal di desa Trusmi dan sekitarnya. Desa ini terletak kira-kira 4 km dari Cirebon menuju ke arah barat daya atau menuju ke arah Bandung. Oleh karena itu, sampai sekarng batik Cirebon identik dengan batik Trusmi.

Motif megamendung yang pada awalnya selalu berunsurkan warna biru diselingi warna merah menggambarkan maskulinitas dan suasana dinamis, karena dalam proses pembuatannya ada campur tangan laki-laki. Kaum laki-laki anggota tarekatlah yang pada awalnya merintis tradisi batik. Warna biru dan merah tua juga menggambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka dan egaliter.

Selain itu, warna biru juga disebut-sebut melambangkan warna langit yang luas, bersahabat dan tenang serta melambangkan pembawa hujan yang dinanti-nantikan sebagai pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan. Warna biru yang digunakan mulai dari warna biru muda sampai dengan warna biru tua. Biru muda menggambarkan makin cerahnya kehidupan dan biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan dan memberi kehidupan.

Dalam perkembangannya, motif megamendung mengalami banyak perkembangan dan dimodifikasi sesuai permintaan pasar. Sering kita temui, motif megamendung dikombinasi dengan motif hewan, bunga atau motif lain. Sesungguhnya penggabungan motif seperti ini sudah dilakukan oleh para pembatik tradisional sejak dulu, namun perkembangannya menjadi sangat pesat dengan adanya campur tangan dari para perancang busana.

Selain motif, warna motif megamendung yang awalnya biru dan merah, sekarang berkembang menjadi berbagai macam warna. Ada motif megamendung yang berwarna kuning, hijau, coklat dan lain-lain.

Proses produksinya yang dahulu dikerjakan secara batik tulis dan batik cap, dengan pertimbangan ekonomis diproduksi secara besar-besaran dengan cara disablon (printing) di pabrik-pabrik. Walaupun kain bermotif megamendung yang dihasilkan dengan proses seperti ini sebenarnya tidak bisa disebut dengan batik.

Wujud motif megamendungpun yang dulunya hanya dikenal dalam wujud kain batik, sekarang bisa ditemui dalam berbagai macam bentuk barang. Ada yang berupa hiasan dinding lukisan kaca, produk-produk interior seperti ukiran kayu maupun produk-produk peralatan rumah tangga seperti sarung bantal, sprei, taplak meja dan lain-lain.

Membaca uraian tentang motif megamendung seperti yang tertulis di atas, rasanya tidaklah berlebihan kalau kita memperhatikan pendapat bapak H. Komarudin Kudiya S.IP, M.Ds, Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) yang menyatakan bahwa motif megamendung merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna, sehingga penggunaan motif megamendung sebaiknya dijaga dengan baik dan ditempatkan sebagaimana mestinya. Pernyataan ini tidak bermaksud membatasi bagaimana motif megamendung diproduksi, tapi lebih kepada ketidaksetujuan penggunaan motif megamendung untuk barang-barang yang sebenarnya kurang pantas, seperti misalnya pelapis sandal di hotel-hotel.

Sumber:

1. Batik Megamendung di http://www.batikpekalongan.wordpress.com

2. Batik Megamendung Didaftarkan ke UNESCO di http://www.ahmadheryawan.com

3.Motif Batik Megamendung, Nilai Seni dan Filosofinya di http://www.netsains.com

4. Sejarah Batik Mega Mendung di http://www.newspaper.pikiran-rakyat.com

MOTIF KAIN BATIK TULIS DAN CAP


Masih menyinggung seputar batik pesisir tepatnya batik Pekalongan, ada saya perkenalkan salah satu karya anak bangsa yang merupakan pusaka warisan leluhur yaitu Batik Cap, Motif Truntum, Batik Jlamprang dan Batik tiga Negeri. Tak beda dengan batik gaya Solo, Jogja, Lasem, Cirebon, batik Pekalongan sendiri ada juga yang dibuat dengan Cap. Memang sebelumnya batik di Indonesia mengalami perkembangan sesuai dengan jamannya yang dimulai dengan Batik Tulis yang dikerjakan oleh pembatik wanita dengan menggunakan Canting.

Canting diisi malam cair warna coklat tua lalu digoreskan ke kain putih mengikuti pola yang telah digambar oleh Tukang Gambar yang diistilahkan Tukang Nyoret. Goresan canting ini digerakkan oleh tangan pembatik wanita. Begitu halusnya goresan canting berisi malam atau lilin ini, mengingatkan keluarga sehat dengan kundalini reiki sendiri yang juga bekerja sebagai buruh batik. Bahkan di kala senggang saat itu, Ibu, Bude, Pakde bahkan Kakek dan Nenek selalu membatik dan mencap kain batik di malam hari tatkala anak-anaknya sudah tidur semua.

Dalam perkembangannya setelah ada canting lalu pembatik juga menggunakan cap. Cap di sini disebut canting cap merupakan alat berbentuk stempel yang digambar pola batik misal pola burung Hong, suluran daun dan ranting, bunga , bintang dan bola. Umumnya pola canting cap dibentuk dari bahan dasar tembaga tetapi ada juga yang dikombinasikan dengan besi.

Batik Cap dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm x 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.

Melalui cap ini pembatik bisa menghemat tenaga dan tidak perlu menggambar pola atau desain di atas kain putih. Pola pada cap terbuat tembaga ini di desain oleh tukang pembuat cap. Mereka biasa menggambar pola batik di selembar kertas minyak putih lalu menuangkan kreasinya ini dalam sebuah cap batik.

Batik cap lalu mengalami perkembangan dengan diperkenalkan Cap Kayu terbuat dari kayu, ringan dijinjing lebih ekonomis serta mudah pembuatannya. Pola pada kayu ini diukir dan dibentuk seperti stempel pada cap tembaga. Hanya saja cap kayu ini tidak menghantarkan panas maka lilin (malam) yang menempel pada kayu lebih tipis dan hasil capnya sendiri di kain putih terlihat ada gradasi warna pada pola antara pinggir motif dan tengahnya. Sebaliknya cap tembaga lilinnya meresap ke serat kain sehingga polanya tercetak sangat tebal.

MOTIF TRUNTUM.

Mengunjungi sentra Batik Pekalongan ada baiknya kita perkenalkan juga motip Truntum yang merupakan simbol cinta yang bersemi kembali. Alkisah motif trumtum ini diciptakan oleh Seorang Ratu Keraton Yogyakarta. Sang Ratu yang dicintai dan dimanja oleh Raja suatu saat dilupakan oleh Raja yang telah mempunyai kekasih baru.

Untuk menghilangkan kesedihan sambil mengisi waktu senggangnya, Ratu pun mulai membatik. Tanpa disadari karena galaunya pikiran Sang Ratu membuat motif berbentuk bintang-bintang di langit tinggi yang kelam. Sekelam perasaan Sang ratu saat itu yang hidup dalam kesendirian karena Sang Raja telah berpaling dari padanya.

Ketekunan Ratu dalam membatik akhirnya menarik perhatian Raja yang kemudian kembali mendekati Ratu untuk melihat proses membuat batik ini. Sejak saat itu Raja mulai memantau perkembangan pembatikan Sang Ratu, akhirnya sedikit demi sedikit kasih sayang Raja pun bersemi kembali di hati Sang Ratu. Motif batik Sang Ratu ketika menggoreskan cantingnya disebut motif Tum-tum kembali yang merupakan perwujudan lambang cinta Sang Raja yang bersemi kembali kepada Sang Ratu.

Kalau Anda sedang galau karena ada Pil/wil dalam kehidupan rumah tangga Anda sebaiknya meniru resep Sang Ratu ini yaitu membatik menorehkan pola Tum-Tum pada kain putih dengan harapan pasangan hidup akan kembali lagi ke pelukan Anda. Siapa tahu? Anda  yang berminat belajar membatik bisa mengambil kursus membatik di Kampung Batik Laweyan Solo.

BATIK MOTIP JLAMPRANG.

Motif Jlamprang di Jogja disebut Nitik. Motif ini begitu populer di Pekalongan yang diproduksi di daerah Krapyak Pekalongan. Batik ini merupakan perkembangan kain Potala dari India berbentuk geometris. Terkadang motif ini berbentuk bintang atau arah mata angin dan menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Batik Jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Pekalongan.

Motif Batik Tiga Negeri merupakan gabungan batik khas Lasem, Pekalongan dan Solo. Pada saat pendudukan penjajah kolonial Belanda dilanjutkan Jepang setiap wilayah industri batik memiliki otonomi sendiri dan disebut Negeri. Perpaduan motif batik khas daerah masing-masing ini masih terlihat wajar bahkan biasa, tetapi yang membuat batik ini memiliki nilai seni tinggi adalah proses pembuatannya.

Menurut para pembatik yang sudah berpengalaman menyimpulkan bahwa air tanah di setiap daerah sentra industri batik memiliki pengaruh besar terhadap pewarnaan batik. Ini wajar mengingat kandungan mineral air tanah berbeda menurut letak geografisnya. Daerah Pesisir seperti Lasem, Pekalongan dan Cirebon berbeda dengan daerah pedalaman Jogja dan Solo. Karena perbedaan air tanah ini maka dibuatlah batik sesuai dengan lokasi pabriknya. Di Lasem batik dibuat dengan warna khasnya seperti merah darah, setelah itu kain batik dibawa ke Pekalongan dan dibatik dengan warna biru, terakhir kain batik diwarnai coklat sogan warna khas batik gaya Solo.

MOTIF KAIN BATIK TIGA NEGERI.

Mengingat sarana transportasi zaman dulu tidak sebaik sekarang, maka Kain Batik Tiga Negeri dapat dikatakan sebagai salah satu masterpiece batik. Nama Batik tiga Negeri ini diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Sentra Kampung Batik Laweyan Solo. Jalan ini membentang dari utara ke selatan dan berakhir di Jembatan Kali Jenes Masjid Laweyan Solo. Mengingat batik merupakan aset penting sebagai karya asli Bangsa Indonesia sudah sepantasnya kita ikut melestarikan dan merawatnya dengan baik. Karena pentingnya batik sebagai identitas bangsa produk dalam negeri Indonesia,”Apakah Anda merasa bangga jika memakai batik sebagai busana kerja, santai dan pergi pesta undangan perkawinan di mana batik yang dikenakan merupakan karya adiluhung Bangsa Indonesia dan bukan bangsa lain? “

 

Sumber : http://arumsekartaji.wordpress.com/2011/06/10/motif-kain-batik-tulis-dan-cap/

Hal Mendasar Untuk Pembentukan Perjanjian Perdagangan TPT Secara Bilateral, Regional, dan Multilateral


FTA (free trade agreement dan free trade area), secara sederhana diartikan sebagai kesepakatan dua negara atau lebih melakukan hubungan perdagangan untuk menghapuskan berbagai hambatan dalam lalu-lintas barang, baik yang berkaitan dengan tarif bea masuk maupun hambatan lainnya dalam bentuk  free trade agreement (dua negara) dan free trade area (lebih dari dua negara atau dalam satu kawasan), dimana masing-masing pihak diberikan kebebasan dalam menetapkan ketentuan yang bersifat khusus terhadap negara non-anggota.

Walaupun FTA ini dapat meningkatkan kerjasama yang lebih mendalam, yaitu spesifik dan konkrit serta lebih mudah dicapai kesepakatan (jika dilakukan secara multilateral yang terlalu lambat sebagai akibat banyaknya negara yang terlibat dengan berbagai kepentingan dan kebutuhan yang tidak dapat terukur dan tidak optimal), namun tidaklah mustahil juga kalau FTA juga dapat menimbulkan hasil negatif yang umunya terjadi karena lemahnya posisi tawar-menawar pihak yang satu jika berhadapan dengan pihak yang ekonominya lebih kuat/besar.

Oleh sebab itu sangatlah penting bagi pemerintah Indonesia untuk memperhatikan dasar utama yang menjadi pertimbangan dalam menyusun dan membentuk FTA, khususnya untuk industri TPT nasional, yaitu:

  • Perlindungan Pasar Domestik, maksudnya seberapa siap produk TPT dalam negeri bisa bersaing dengan produk TPT yang sama/sejenis asal negara partner FTA di pasar domestik. Hal ini tidak lain karena hampir semua negara produsen TPT menjadikan pasar domestiknya (dalam negeri) sebagai pasar penjamin (guaranteed market). Apalagi dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 230 juta jiwa merupakan pasar yang sangat besar dan potensial, maka jangan sampai nantinya dalam penyusunan dan pembentukan FTA tersebut mengakibatkan market share industri TPT nasional, khususnya IKM TPT yang 100%nya dalam negeri hilang karena dikuasai oleh produk TPT negara partner FTA.
  • Market Access, maksudnya seberapa banyak tambahan akses pasar yang di dapat di negara partner FTA untuk produk TPT Indonesia. Tidak dapat disangkal, bahwa dengan penurunan tarif (bea masuk) maupun penghapusan HS akan berkolerasi dengan eksistensi produk TPT nasional, baik di pasar domestik, regional maupun internasional. Oleh sebab itu, hasil yang diharapkan dari penyusunan dan pembentukan FTA tersebut adalah seberapa banyak tambahan akses pasar yang didapat untuk produk TPT Indonesia di negara yang bersangkutan, atau dapat saja yang terjadi sebaliknya yaitu menjadi bumerang bagi industri TPT nasional dalam mengakses pasar di negara partner FTA tersebut.
  • Kesiapan pemerintah, maksudnya adalah 1) koordinasi antar departemen di pemerintahan, dan 2) kerjasama pemerintah dengan pihak industri TPT nasional. Bagaimanapun juga, penyusunan dan pembentukan FTA adalah bagian dari kebijakan industri (industrial policy) dan kebijakan perdagangan (trade policy). Oleh sebab itu untuk penyusunan dan pembentukan FTA diperlukan sinergisasi kebijakan industri dan perdagangan yang meliputi rencana pengembangan dan peningkatan akses pasar ekspor (market access) dan posisi produk TPT dalam negeri dipasar domestik (domestic market). Dengan adanya kebijakan perdagangan (Trade Policy) yang mendukung/sinergis dengan kebijakan industri (industry policy), nantinya pembentukan FTA tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal

Walaupun FTA dapat meningkatkan kerjasama yang lebih mendalam, yaitu spesifik dan konkrit serta lebih mudah dicapai kesepakatan, namun tidaklah mustahil juga kalau FTA ini juga dapat menimbulkan hasil negatif yang biasanya terjadi antara lain dikarenakan lemahnya posisi tawar-menawar pihak Indonesia jika berhadapan dengan negara yang ekonominya lebih kuat/besar. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi Indonesia dalam hal penyusunan dan pembentukan FTA dengan negara manapun menggunakan/menetapkan:

  • ROO (Rule of Origin) yang 2 step process atau fabrics forward. Maksudnya barang yang diperdagangkan harus sudah melalui 2 tahap pemprosesan untuk bisa memperoleh fasilitas FTA. Hal tersebut untuk meningkatkan nilai tambah (value added) di dalam negeri disamping untuk menghidarkan praktek-praktek illegal transhipment.
  • RVC (Regional Value Content) yang minimal 40% local content.

Sedangkan kata kunci dalam rangka FTA adalah daya saing. Untuk meningkatkan daya saing produk TPT nasional diperlukan domestic full service alliance, maksudnya dalam rangka mempertahankan usahanya agar industri TPT nasional melakukan konsorsium untuk pembelian batubara, fiber, benang, dan lain sebaginya yang dilaksanakan/dilakukan secara bersama.

 

Sumber : http://egismy.wordpress.com/2009/11/26/hal-mendasar-untuk-pembentukan-perjanjian-perdagangan-tpt-secara-bilateral-regional-dan-multilateral/

PEKALONGAN KOTA BATIK DI PANTURA JAWA TENGAH.


Pekalongan dikenal sebagai kota batik karena produksi batiknya yang indah dan dinamis. Selain itu Pekalongan tepatnya kabupaten Pekalongan lebih dikenal sebagai kota santri, karena kebudayaan kota Pekalongan yang sangat kental nuansa Islaminya. Sentra industri Batik Pekalongan berada di daerah Buaran, tepatnya di Desa Simbang Kulon.

Meskipun dunia sedang dilanda krisis ekonomi global para perajin batik Pekalongan terus berkarya dan tidak terpengaruh imbas krisis keuangan yang tengah melanda Eropa khususnya Yunani dan Inggris.  Mereka terus berkarya mengingat tingginya jumlah penggemar Batik Pekalongan yang senyatanya tetap digemari oleh konsumen batik dari Jawa Tengah, Luar Jawa dan Mancanegara. Sungguh menarik menyaksikan corak Batik Pekalongan ini. Sekalipun udara cukup panas di siang hari minggu ke empat Mei lalu, para pekerja tetap bersemangat menyelesaikan proses produksi batik.

Batik Pekalongan yang mempunyai corak unik berupa perpaduan antara batik klasik dengan corak kontemporer, perwarnaan yang cerah namun harmonis tetap mempunyai penggemar sendiri. Ternyata Batik Pekalongan termasuk batik pesisir nya sangat kaya akan warna. Sebagai batik pesisir ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis.

Pekerja tengah membatik yang umumnya menggunakan tenaga kerja wanita yang mampu duduk lama saat membatik. Foto Wihdan Hidayat/Antara.

Jika dibandingkan dengan batik pesisir lainnya misalnya batik Lasem, batik Pekalongan sangat dipengaruhi oleh pendatang keturunan China dan Belanda. Di sini motip batik Pekalongan sangat bebas, menarik meskipun motifnya terkadang sama dengan batik Solo atau Jogja. Motif ini juga sering dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Dalam sehelai batik Pekalongan dijumpai 8 warna yang berani dengan kombinasi yang dinamis. Motif batik Pekalongan yang paling populer ialah motif batik Jamprang.

Pemasaran batik Pekalongan mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Makasar hingga Minahasa. Biasanya pedagang batik daerah seberang ini memesan ke perajin batik Pekalongan agar dibuatkan motif batik sesuai dengan selera dan adat daerah masing-masing. Keistimewaan batik Pekalongan adalah pembatiknya selalu mengikuti perkembangan jaman.

Saat penjajah Jepang masuk Pulau Jawa tempo dulu, lahir batik Jawa yang disebut Batik Hokokai. Batik Hokokai adalah batik dengan motif dan warna mirip Kimono Jepang. Batik Jawa Hokokai disebut juga batik pagi dan sore. Di tahun enam puluhan juga diciptakan batik Tritura. Motif yang terkenal saat ini adalah motif Tzunami. Memang orang Pekalongan sangat kaya akan ide dan kreasi seni batik.

Menurut brosur Ungkapan Spesial Batik, Its Mystery and Meaning yang ada di sentra perajin Batik Pekalongan disebutkan bahwa setiap turis domestik atau asing yang berkunjung ke sentra Batik Pekalongan selalu dibawa ke Museum Batik Pekalongan yang berada di Gedung Bekas Balai Kota Pekalongan. Di gedung ini setiap pengunjung dapat melihat berbagai jenis batik dari waktu ke waktu.

Kita dapat melihat perkembangan batik dari jaman Belanda, Jepang saat Perang Dunia II dengan motif batik Hokokai, batik Sumatera dengan pengaruh budaya Islam dengan motif kaligrafi tulisan Arab. Koleksi museum batik ini ternyata cukup lengkap. Di sini pengunjung dapat melihat koleksi batik antik berusia 100 tahun lebih. Ada juga Kebaya Encim yang dipakai wanita Tionghoa di Indonesia saat itu.

Gedung Museum Batik Pekalongan ini memanfaatkan gedung bekas Balaikota Pekalongan. Lokasinya sangat mudah dijangkau oleh angkutan kota terletak di daerah Bundaran Jatayu dekat Jalan Diponegoro Pekalongan. Di daerah ini merupakan simbol kerukunan umat beragama Pekalongan yang terbina sangat baik.

Di samping Museum Batik Pekalongan berdiri Masjid dengan latar belakang Gereja Khatolik Pekalongan. Di sekitar museum juga berdiri Gereja Protestan dan tempat ibadah penganut Tri Dharma. Begitu juga dengan motif batik Pekalongan sendiri banyak dipengaruhi gabungan atau pembauran unsur Lokal, Arab, China dan Belanda.

Sungguh warisan budaya lewat seni batik yang tak ternilai harganya. Karenanya marilah kita lestarikan dan berdayakan Batik Pekalongan agar juga sejajar dengan Batik Jogja, Solo, Cirebon dan Lasem. Mulai awal tahun 2011 ini di kantor sehat dengan reiki pun, setiap hari Selasa dan Jumat setiap karyawan wajib memakai batik buatan anak negeri sendiri termasuk di sini batik Pekalongan.

Sambil bermalam di kota batik Pekalongan di mana cuaca cukup cerah di malam hari, hal menarik lainnya adalah wisata kulinernya. Kota ini banyak memanjakan wisatawan untuk mau mencicipi makanan khas Pekalongan. Karena saat ini Pekalongan sudah masuk musim kemarau, yang paling enak malam itu adalah menyantap Sate Ayam sekaligus mencicipi masakan khas Pekalongan Nasi Megono dan ditemani secangkir wedang ronde.

 

 

Sumber : http://arumsekartaji.wordpress.com/2011/06/10/pekalongan-kota-batik-di-pantura-jawa-tengah/

Peran Industri TPT Terhadap Pertumbuhan Ekonomi


Wednesday, 24 June 2009

Ade Sudrajat
The Vice Chairman
Indonesian Textile Association (API)

Pertumbuhan ekonomi menjadi sorotan utama akhir-akhir ini. Karena pertumbuhan ekonomi merupakan tolak ukur kemajuan suatu negara. Lantas bagaimana pengaruh industri TPT dalam pertumbuhan ekonomi? Apa yang menjadi masalah pada industri TPT? Serta bagaimana peluang industri TPT kedepan? Berikut cuplikan hasil wawancara dengan Ade Sudrajat Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) :

T : Saat ini pertumbuhan ekonomi menjadi sorotan publik, peran industri terhadap ekonomi itu seperti apa?

J : Peran industri ini sangat besar dalam penyelenggaraan suatu negara, karena pertumbuhan dari warga masyarakat, pertumbuhan penduduk yang begitu cepat tentu harus disiapkan lapangan pekerjaannya. Dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang cepat ini tentu sektor lain tidak secepat sektor industri. Katakanlah sektor pertanian daya serapnya (tenaga kerja-red) sangat kecil, sangat lambat tapi cukup besar juga. Kemudian industri dapat menyerap dalam waktu pendek dengan jumlah yang signifikan. Sehingga peran dalam PDB, peran incomont capital, peran supply and demand kebutuhan masyarakat ditentukan oleh banyak atau tidaknya serapan tenaga kerja.

T : Peran industri TPT terhadap industri sendiri bagaimana?

J : Ya pasti dari sektor non migas, TPT masih mempunyai peran yang baik, masih nomor satu dibanding industri yang lain, karena mampu menyerap tenaga kerja yang besar di atas satu juta yang merupakan sektor padat karya. Kemudian kita menghasilkan nett devisa yang rata-rata pertahunnya diatas 5 milyar.

T : Besarnya / kontribusi industri TPT terhadap Produk Domestik Bruto?

J : Sektor industri TPT masih dibawah 4 % dari PDB, tapi dalam sektor manufaktur kita sangat besar dengan 4 % ini.

T : Pasar industri TPT Indonesia sekarang bagaimana?

J : Pasar kita tidak terlalu gembira dibandingkan dengan Vietnam yang gross-nya masih cukup signifikan, bahkan dia bisa mendekati eq USD 9,3 milyar sedangkan kita yang sudah 30 tahun lebih baru USD 10,5 milyar. Mereka baru 5 tahun sudah USD 9,3 milyar. Artinya kita tidak banyak berubah, tentu ada yang salah dalam diri kita dan harus disadari kesalahan itu apa dan permasalahan paling banyak bukan di industri namun di pengelolaan negara.

T : Permasalahan yang ada dalam industri TPT sekarang ini?

J : Energi tetap suatu yang membuat produk bisa berdaya saing tinggi, kalau energinya murah tentu bisa berdaya saing. Jadi kita berhemat hanya untuk membayar PLN, membayar keteledoran atau inefisiensi di PLN. Jadi seharusnya inefisiensi di PLN jangan ditimpakan pada kita. Masalah lainnya adalah sistem perdagangan kita harus segera diperbaiki dan juga kesadaran perpajakan dari seluruh sektor riil sehingga barang impor tidak bisa masuk.

T : Pengaruh rancangan undang-undang DPR terhadap kenaikkan PPN?

J : Kalau pajak naik tanpa memperhatikan kondisi perekonomian secara menyeluruh maka itu suatu bentuk kekerasan negara kepada masyarakat. Harusnya itu dilihat dari kemampuannya. Kalau kondisi tidak mampu maka akan membahayakan stabilitas politik dan keamanan.

T : Mengenai Sumber Daya Manusia sendiri?

J : Kalau SDM sudah menuju pada trek yang baik, karena trek yang baik ini diawali dengan pemerintah yang menyetujui 20 % APBN untuk pendidikan. Pemerintah akan memprioritaskan SMK daripada SMA, karena 40 tahun sekarang ini kita dididik untuk menjadi masyarakat yang generalisir. Kedepan kita harus menjadi orang-orang yang dengan keahliannya masing-masing. Itu suatu hal yang menandakan kita akan maju.

T : Proyeksi kedepannya seperti apa?

J : Kita sangat bergantung kepada siapa yang akan menjadi presiden, mau lanjutkan atau lebih cepat lebih baik atau pro rakyat. Kita harus menanyakan kepada capres ini target waktu untuk menyelesaikan masalah yang ada, ya semacam kontrak politik. Berapa lama waktu untuk menyelesaikannya. Itu suatu hal yang sangat penting kedepannya. Kalau Indonesia seperti yang lama-lama ini Indonesia akan ketinggalan. Pertama kita ketinggalan oleh Malaysia kemudian Singapura dan sekarang ketinggalan sama Thailand, sebentar lagi akan ketinggalan sama Vietnam. Jadi Indonesia mau menjadi negara apa? Kalau kita terus memimpin dengan gaya-gaya sekarang, kita harus merubah paradigma kita.

T : Target yang ingin di capai industri TPT seperti apa di tahun 2009? Berapa persen?

J : Kita tetap optimis naik seiring dengan jumlah penduduk yang bertambah. Tahun 2009 ini kita tidak muluk-muluk dengan pertumbuhan target 4-5 %. Kalau pemerintah mampu menyelesaikan dua hal tadi kenaikan bisa mencapai 10 %.

T : Target jangka panjangnya bagaimana?

J : Tergantung pemerintahnya siapa, kalau dia berani menyelesaikan dalam waktu tertentu. Tentu kita bisa memproyesikan jangka panjang, kalau seperti yang sekarang-sekarang ini kita tidak bisa memproyeksi. Mungkin tahun 2015 tidak akan jauh berbeda, jadi jangka pendeknya dulu.***

 

Sumber : http://www.indotextiles.com/index.php?option=com_content&task=view&id=823&Itemid=102

Usulan Relokasi Perusahaan Manufaktur China ke Indonesia


Mengusulkan China untuk merelokasi perusahaan terutama perusahaan manufaktur mereka ke Indonesia. Hal ini seiring maraknya produk China yang masuk ke tanah air. Dengan demikian diharapkan neraca perdagangan antara Indonesia dengan Cina menjadi seimbang.

 

“Terutama produk China yang masuk ke Indonesia, lebih baiknya memiliki pabrik di Indonesia,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

 

Hal ini diungkapkan Menko Perekonomian saat melakukan kunjungan bilatreal ke China pekan lalu dan  bertemu dengan Perdana Menteri China. Selain itu Hatta, juga membicarakan bahwa ke depannya Indonesia tidak lagi menjual material karena tertuang dalam UU Minerba hingga 2012. Sebab itu, penting membangun industri hilirnya di Indonesia.

 

Sektor industri yang terkena  dampak implementasi perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) meliputi industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki (sepatu), industri elektronik, industri mebel kayu dan rotan, industri mainan anak, industri permesinan, industri besi dan baja, industri makanan dan minuman, serta industri jamu dan kosmetik.

 

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah mengungkapan indikasi kerugian implementasi ACFTA antara lain menurunnya produksi (industri) sekitar 25-50 persen, penurunan penjualan di pasar domestik 10-25 persen, dan penurunan keuntungan 10-25 persen. Selain itu juga pengurangan tenaga kerja 10-25 persen.

 

Masalah yang selama ini dihadapi adalah daya saing. Bukan hanya dalam konteks implementasi ACFTA saja, namun juga dalam konteks perdagangan bebas dengan negara lain.

 

 

Sumber :

Mengusulkan China untuk merelokasi perusahaan terutama perusahaan manufaktur mereka ke Indonesia. Hal ini seiring maraknya produk China yang masuk ke tanah air. Dengan demikian diharapkan neraca perdagangan antara Indonesia dengan Cina menjadi seimbang.

 

“Terutama produk China yang masuk ke Indonesia, lebih baiknya memiliki pabrik di Indonesia,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

 

Hal ini diungkapkan Menko Perekonomian saat melakukan kunjungan bilatreal ke China pekan lalu dan  bertemu dengan Perdana Menteri China. Selain itu Hatta, juga membicarakan bahwa ke depannya Indonesia tidak lagi menjual material karena tertuang dalam UU Minerba hingga 2012. Sebab itu, penting membangun industri hilirnya di Indonesia.

 

Sektor industri yang terkena  dampak implementasi perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) meliputi industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki (sepatu), industri elektronik, industri mebel kayu dan rotan, industri mainan anak, industri permesinan, industri besi dan baja, industri makanan dan minuman, serta industri jamu dan kosmetik.

 

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah mengungkapan indikasi kerugian implementasi ACFTA antara lain menurunnya produksi (industri) sekitar 25-50 persen, penurunan penjualan di pasar domestik 10-25 persen, dan penurunan keuntungan 10-25 persen. Selain itu juga pengurangan tenaga kerja 10-25 persen.

 

Masalah yang selama ini dihadapi adalah daya saing. Bukan hanya dalam konteks implementasi ACFTA saja, namun juga dalam konteks perdagangan bebas dengan negara lain.

 

Sumber :

Mengusulkan China untuk merelokasi perusahaan terutama perusahaan manufaktur mereka ke Indonesia. Hal ini seiring maraknya produk China yang masuk ke tanah air. Dengan demikian diharapkan neraca perdagangan antara Indonesia dengan Cina menjadi seimbang.

 

“Terutama produk China yang masuk ke Indonesia, lebih baiknya memiliki pabrik di Indonesia,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

 

Hal ini diungkapkan Menko Perekonomian saat melakukan kunjungan bilatreal ke China pekan lalu dan  bertemu dengan Perdana Menteri China. Selain itu Hatta, juga membicarakan bahwa ke depannya Indonesia tidak lagi menjual material karena tertuang dalam UU Minerba hingga 2012. Sebab itu, penting membangun industri hilirnya di Indonesia.

 

Sektor industri yang terkena  dampak implementasi perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) meliputi industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki (sepatu), industri elektronik, industri mebel kayu dan rotan, industri mainan anak, industri permesinan, industri besi dan baja, industri makanan dan minuman, serta industri jamu dan kosmetik.

 

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah mengungkapan indikasi kerugian implementasi ACFTA antara lain menurunnya produksi (industri) sekitar 25-50 persen, penurunan penjualan di pasar domestik 10-25 persen, dan penurunan keuntungan 10-25 persen. Selain itu juga pengurangan tenaga kerja 10-25 persen.

 

Masalah yang selama ini dihadapi adalah daya saing. Bukan hanya dalam konteks implementasi ACFTA saja, namun juga dalam konteks perdagangan bebas dengan negara lain.

 

Sumber : http://www.indotextiles.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1786&Itemid=72